Sabtu, 16 Mei 2009

Keys to Successful Time Management

Self knowledge and goals: In order to manage your time successfully, having an awareness of what your goals are will assist you in prioritizing your activities.
Developing and maintaining a personal, flexible schedule: Time management provides you with the opportunity to create a schedule that works for you, not for others. This personal attention gives you the flexibility to include the things that are most important to you.

Jumat, 15 Mei 2009

Yogyakarta

Yogyakarta (some people call it Jogja, Jogjakarta, or Yogya) is a city with outstanding historical and cultural heritage. Yogyakarta was the centre of the Mataram Dynasty (1575-1640), and until now the kraton (the sultan's palace) exists in its real functions. Also, Yogyakarta has numerous thousand-year-old temples as inheritances of the great ancient kingdoms, such as Borobudur temple established in the ninth century by the dynasty of Syailendra.

More than the cultural heritages, Yogyakarta has beautiful natural panorama. The green rice fields cover the suburban areas with a background of the Merapi Mountain. The natural beaches can be easily found to the south of Yogyakarta.

Here the society lives in peace and has typical Javanese hospitality. Just try to go around the city by bike, pedicab, or horse cart; and you will find sincere smiles and warm greeting in every corner of the city.

An artistic atmosphere is deeply felt in Yogyakarta. Malioboro, as the center of Yogyakarta, is overwhelmed by handicraft from all around the city. Street musicians always ready entertain the visitors of the lesehan food stalls.

Those who have visited Yogyakarta reveal that this city makes them long for it. Just visit here, then you will understand what this means.

Transportations to Yogyakarta:
Train
You may reach Yogyakarta by train from Jakarta, Bandung, or Surabaya
Bus
Yogyakarta is reachable by bus from Sumatra Island, Bali Island, and most cities of Java Island.
Plane
Recently, international direct flights from Kuala Lumpur are established to Yogyakarta. In addition, domestic flights to Yogyakarta from Jakarta, Denpasar, Balikpapan, and many others, are available now

On The Job Training

It is the responsibility of supervisors and managers to utilize available resources to train, qualify, and develop their employees.

On-the-job training (OJT) is one of the best training methods because it is planned, organized, and conducted at the employee's worksite. OJT will generally be the primary method used for broadening employee skills and increasing productivity. It is particularly appropriate for developing proficiency skills unique to an employee's job - especially jobs that are relatively easy to learn and require locally-owned equipment and facilities.

Morale, productivity, and professionalism will normally be high in those organizations that employ a sound OJT program.

An analysis of the major job requirements (identified in the position description and performance plan) and related knowledges, skills, and abilities form the basis for setting up an OJT plan. To be most effective, an OJT plan should include:
The subject to be covered;
Number of hours;
Estimated completion date; and
Method by which the training will be evaluated

To have a successful OJT program, supervisors need to assign a coach to each employee involved in OJT. It is the responsibility of the coach to plan training carefully and conduct it effectively.

Pelepasan Siswa On The Job Training


Pelepasan siswa OJT dan briefing dengan ASITA tanggal 7 Mei 2009 di Hotel Cakra Kusuma Yogyakarta. Penempatan di beberapa Travel Agent di area Yogyakarta mulai 11 Mei hingga 31 Agustus 2009.

Kamis, 30 April 2009

Bekerja atau Jadi Pengusaha?

Sebentar lagi banyak pelajar dan mahasiswa yang akan lulus dan menyelesaikan studinya. Ini jadi masalah baru karena mereka harus mencari pekerjaan padahal lapangan kerja sangat sempit. Wah....repot juga ya broer.......
Tapi tulisan berikut mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan anda dalam mengambil sikap.

Para sarjana saat ini dihadapkan pada kenyataan sulit: lapangan kerja tidak sebanding dengan angkatan kerja, sehingga tidak semua sarjana mendapatkan pekerjaan. Tahun 2008 pengangguran di negeri ini mencapai 11 juta orang. Ini suatu kenyataan yang menyedihkan. Ironisnya ada sifat gengsi pada para sarjanan yang pada akhirnya mengahambat mereka sendiri. Sementara untuk lulusan SMA/SMK tidak terlalu gengsi sehingga mereka bisa bekerja. Untuk Anda yang lulusan SMK jangan gengsi dong...kalo bekerja di sektor informal.

Jika diasumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai maka jika tumbuh 1 juta pengusaha baik formal maupun informal, telah membantu pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Nah untuk dengan demikian menurut hemat saya menjadi pengusaha dapat sekaligus menyediakan lapangan kerja bagi orang lain.

Untuk siswa SMK yang mau lulus jangan ragu-ragu untuk menjadi pengusaha bila tidak bisa mendapatkan kerjaan. Dan jangan gengsi bila tidak sesuai dengan program keahlian yang telah ditempuh selama sekolah.

Rabu, 29 April 2009

Toko Sekolah Harus Berani Bersaing

Persaingan adalah garam dunia usaha. Tanpa persaingan tidak ada pengusaha yang handal dan tenaga tidak trampil. Tanpa persaingan konsumen akan sengsara karena harga ditentukan oleh satu pemain saja dan konsumen menjadi "tidak pintar". Bagi pengusaha tanpa ada persaingan usaha tidaklah menarik, monoton dan tidak ada tantangan sehingga tidak muncul kreasi baru, produk baru, dan inovasi baru lainnya.

Nah, bagaimana menghadapi persaingan? resepnya mudah :berani berbeda, karena di tengah pasar yang kompetitif menjadi beda adalah hal yang penting. Jadi jangan ikut-ikutan latah. Produk pun berani beda karena sesuatu yang beda akan mempunyai nilai tambah bagi kita.

Coba bandingkan toko yang anda kunjungi tanyakan kenapa anda selalu pergi ke toko tersebut. Bisa jadi toko terebut pelayanannya paling bagus diantara toko yang sejenis, Bisa jadi kualitas makanannya enak dan anda ingin mencicipinya lagi atau karena harganya miring sehingga anda ingin berkunjung lagi.

Nah...dari paparan yang ringin tersebut, masihkan toko sekolah takut bersaing?

Selasa, 21 April 2009

BELAJAR DENGAN PAK EMI

Tetangga depan rumah saya bernama Pak Kemi, saya belum tau persis apa maknnya karena saya tidak pernah tanya apa maknanya. Saya pikir itu nama yang bagus. Tetapi setiap kali saya ngajar selalu saya ulang-ulang nama Pak Kemi. Dan ternyata saya perlu mendalami Pakemi, yach PAKEMI perlu saya terapkan dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. PAKEMI (Pembelajaran Aktif, Komunikatif, Kreatif, Menyenangkan, dan Inovatif).

Pembelajaran yang baik tentu tidak siswanya hanya diam dan guru berbicara hingga jam berakhir tetapi bagaimana merangsang siswa menjadi aktif. Wah...kalo yang ini saya yakin sudah paham di luar kepala dari istilah CBSA sampai Kompetensi.

Komunikatif, ini dia yang sering membuat repot...bagaimana supaya terjadi komunikasi dua arah, rata-rata siswa takut dengan guru yang agak killer, dan bertampang "tua" alias "tidak gaul" apalagi yang ngiler.... (ada lo guru ngiler di kelas) he.....
Yach..paling tidak bahasa kita bisa dimengerti dan mudah dipahami kali ya......

Kreatif, jaman sertifikasi dan internetisasi sekarang masih banyak loh...yang belajar hanya mencatat dan mengerjakan LKS ...(LKS kan Lakone kurang sippp....alias bukunya tidak "bertitle" bagus.... heeee) Maaf ya.....he....
Banyak sebenarnya yang dapat membuat guru menjadi kreatif, yang penting jangan merasa puas atau merasa punya power ketika di kelas sehingga tidak mau belajar.

Nah berikutnya menyenangkan, sudah terlalu banyak pelajaran, tugas-tugas gurunya tidak menyenangkan pasti bikin BT (istilah anak sekarang. Mereka butuh hal yang menyenangkan dalam belajar.

Inovatif, contohnya jangan pakai sumber belajar yang 10 tahun lewat, cari sumber-sumber baru dan worksheet yang menantang. Atau jangan-jangan buku jaman majapahit dipakai untuk sumber belajar ha...haa.....

Sekian dulu dari saya....